Nama : Mohammad Alfi Rizzi
Kelas : XI – TKJ 2 /06
Islam,
Satu-satunya Agama yang Benar
Islam adalah nikmat terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada kita,
sebab Islam merupakan satu-satunya agama yang benar dan diridhai oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Oleh karena
itu, marilah kita senantiasa menjaga karunia yang paling besar ini, dengan
bersungguh-sungguh dalam berpegang teguh dengan ajarannya. Semoga nasihat dalam khutbah Jumat ini, memberikan
manfaat bagi kita semua. [Redaksi KhotbahJumat.com]
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Terlebih, nikmat paling besar yang tidak
didapatkan oleh setiap orang, bahkan oleh kebanyakan manusia, yaitu nikmat
dikaruniai agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَآأَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ
بِمُؤْمِنِينَ
“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun engkau sangat
menginginkannya.” (Yusuf: 103)
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga karunia yang paling besar
ini, dengan bersungguh-sungguh dalam berpegang teguh dengan ajarannya. Bukan
menjadi orang yang sekadar mengaku beragama Islam, namun tidak mau membuktikan
keislamannya.
Hadirin rahimakumullah,
Islam adalah agama yang menuntut pemeluknya untuk menyerahkan diri kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh jenis perbuatan
syirik sekaligus orang-orang yang melakukannya. Islam juga agama yang dibangun
di atas pondasi dan penopang yang disebut rukun Islam. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ:
شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ،
وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ
البَيْتِ
“Agama Islam dibangun di atas lima hal: Persaksian bahwasanya tidak ada
sesembahan yang benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah,
menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Pada hakikatnya, merupakan kesalahan besar bila ada yang menganggap bahwa
seseorang akan tetap di atas keislamannya selama dirinya mengaku muslim dan
mengakui kebaikan ajaran Islam, meskipun dirinya di atas akidahnya orang-orang jahiliyah,
sehingga masih terjatuh pada syirik besar dan tidak mewujudkan dua kalimat
syahadat yang merupakan pondasi Islam. Di samping itu, merupakan suatu
kebodohan yang nyata bila ada yang menyangka bahwa seorang muslim tidak mungkin
akan keluar dari agamanya meskipun dirinya terjatuh dalam perbuatan
memperolok-olok ajaran Islam, seperti memperolok-olok disyariatkannya memakai
cadar, memelihara jenggot, mengangkat kain di atas mata kaki, dan yang
semisalnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan perbuatan
memperolok-olok agama, meskipun hanya dengan maksud bersenda-gurau dalam
firman-Nya,
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا
كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ
تَسْتَهْزِءُونَ {65} لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang perbuatan memperolok-olok
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya), tentulah mereka akan
menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja.”
Katakanlah, “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, kamu selalu
berolok-olok? Tidak ada udzur bagi kalian. Kalian telah kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65—66)
Oleh karena itu, setiap muslim wajib mengenal agamanya dengan
sebenar-benarnya, serta mengamalkan ajarannya. Sebab, ketidaktahuannya terhadap
ajaran Islam bisa menyebabkan dirinya terjatuh pada perbuatan syirik dan
pembatal-pembatal keislaman lainnya.
Hadirin rahimakumullah,
Barang siapa memerhatikan keadaan umat yang tidak mendapatkan hidayah Islam
atau tidak menjalankan aturan-aturan Islam dalam kehidupannya, baik di masa
lampau, maupun di masa kini, dia akan mendapatkan keadaan yang penuh
ketidakteraturan. Mereka hidup dalam keadaan tidak tenteram dan diliputi rasa
khawatir, serta saling menyakiti satu sama lain. Hal ini sebagaimana terjadi di
masa jahiliyah, misalnya, yaitu zaman sebelum diutusnya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam di Jazirah Arab. Di masa itu, manusia hidup dalam keadaan
diliputi kebodohan, kegelapan, dan kerusakan. Karena kebodohannya, mereka tidak
mengenal Rabb-nya dan terjatuh pada peribadatan kepada selain Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Di antaranya, mereka berdoa kepada orang yang telah meninggal
dunia dengan persangkaan bahwa orang-orang yang telah mati tersebut bisa
dijadikan sebagai perantara untuk meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang musyrikin di zaman
dahulu ini dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ
مَانَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)
Begitu pula keadaan orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah Islam di
masa kini. Mereka terjatuh pada perbuatan syirik dengan berbagai ragamnya,
hingga melakukan perbuatan-perbuatan yang menutupi akal mereka, seperti berebut
kotoran kerbau atau air comberan untuk mengambil berkah darinya. Mereka juga
dipenuhi rasa takut dan saling bermusuhan, sebagaimana yang terjadi di tempat
yang masih banyak praktik-praktik sihir dan perdukunan. Begitu pula yang
terjadi pada masyarakat yang masih mengeramatkan pohon atau tempat-tempat
tertentu.
Adapun orang-orang yang mendapatkan hidayah Islam dan memahaminya dengan
sebenar-benarnya, mereka hidup di atas kemuliaan dan kebahagiaan. Mereka
menjalani kehidupan dunia ini di atas aturan-aturan hidup yang lengkap,
sempurna, penuh dengan keindahan dan kemudahan.
Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, di hadapan kita ada jalan menuju kebahagiaan dan jalan
menuju surga, serta keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di hadapan kita
ada jalan yang terang dan jelas dalam mengatur seluruh urusan kita. Namun, mengapa
ada yang tidak bersungguh-sungguh mengikuti ajarannya? Bahkan, ada kaum
muslimin yang justru meninggalkan akidah, prinsip, dan aturan Islam, serta
lebih memilih akidah orang-orang musyrikin dan ajaran orang-orang kafir?
Tidakkah mereka menginginkan ajaran yang akan membuat ketenteraman dan
kebahagiaan, serta jauh dari kekhawatiran dan ketidakteraturan? Lebih dari itu,
tidakkah mereka menginginkan keselamatan dari siksa api neraka dan merasakan
nikmatnya surga? Namun, mengapa ada kaum muslimin yang justru meninggalkan
ajaran agamanya? Mengapa sebagian kaum muslimin lebih bangga ketika bisa
berpenampilan dengan model orang Barat? Mengapa pula sebagian wanita muslimah
lebih memilih berpenampilan dengan busana orang kafir yang menampakkan
auratnya, berpakaian tetapi telanjang, serta meninggalkan busana muslimah yang
menjaga kehormatan dan kesuciannya? Tidakkah ajaran Islam adalah ajaran yang
indah dan mulia, sedangkan yang menyelisihinya adalah ajaran yang hina dan
rendah?
Hadirin rahimakumullah,
Apa pun sikap seseorang terhadap ajaran Islam, kerugiannya akan kembali
pada dirinya sendiri. Orang-orang yang berpegang teguh di atas ajaran Islam
dengan sebenar-benarnya akan terus ada, dengan kehendak dan pertolongan Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا
غَيْرَكُمْ ثُمَّ لاَيَكُونُوا أَمْثَالَكُم
“Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan
kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kalian.” (Muhammad: 38)
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita bersungguh-sungguh mewujudkan keislaman kita dan berhati-hati
dengan tipudaya musuh-musuh Islam yang ingin mengeluarkan pemeluknya dari
ajarannya yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى
يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ
دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا
خَالِدُونَ
“Dan mereka (orang-orang kafir) tidak henti-hentinya memerangi kalian
sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada
kekafiran), jika mereka mampu. Barang siapa yang murtad di antara kalian dari
agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia
amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka
kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 217)
Upaya memerangi kaum muslimin yang dilakukan oleh orang-orang kafir
tidaklah selalu menggunakan cara fisik. Akan tetapi, mereka memerangi melalui
pemikiran dan keyakinan, serta akhlak yang akan merusak agama kaum muslimin.
Mereka akan menawarkan akidah dan prinsip yang akan merusak, serta
menghilangkan akidah seorang. Mereka juga menawarkan akhlak yang dipenuhi
keinginan untuk memuaskan syahwat. Mereka akan memanfaatkan berbagai kesempatan
dan sarana yang beraneka ragam: media cetak, elektronik, dan lainnya. Oleh
karena itu, kaum muslimin harus senantiasa waspada dari makar dan tipudaya,
serta upaya pemurtadan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Mudah-mudahan
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga dan menolong kita untuk
bisa mengamalkan ajaran Islam yang sebenarnya serta menjauhkan kita dari
mengikuti ajaran-ajaran orang kafir yang menyesatkan.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانَا
لِلْإسْلاَمِ، وَامْتَنَّ عَلَيْنَا بِبِعْثَةِ خَيْرِ الأَنَامِ، نَبِيِّنَا
وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ صّلَّى اللهُ عَلَيءهِ وَ سَلَّمَ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى
وَأَشْكُرُهُ حَيْثُ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ، وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ،
وَرَضِيَ لَنَا الْإِسْلاَمَ ديناً، وَأَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيْمِ،
وَحَذَّرَنَا مِنْ طُرُقِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ، وَالضَّالِّيْنَ وَغَيْرِهِمْ
مِنَ الْمُنْحَرِفِيْنَ عَنِ اْلهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِيْنَ، وَتَرَكَ
النَّاسَ عَلَى المَنْهَجِ القَوِيْمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَالسَّائِرِيْنَ عَلَى نَهْجِهِمْ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan bersyukur atas karunia-Nya yang sangat besar, yaitu agama yang sempurna dan
diutusnya Rasul yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ
وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن
قَبْلُ لَّفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus kepada mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah dan sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)
Hadirin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berwasiat kepada orang-orang yang beriman
untuk tetap kokoh di atas agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam hingga ajal menjemputnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا
اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah meridhai Islam sebagai satu-satunya
agama bagi kita, sebagaimana dalam firman-Nya,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah
Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai
agama bagi kalian.” (Al-Maidah: 3)
Oleh karena itu, selain Islam adalah agama yang batil dan tidak akan
diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا
فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah
akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
rugi.” (Ali Imran: 85)
Dengan demikian, adalah suatu kesalahan yang sangat besar dan nyata bila
menganggap semua agama itu benar. Mungkin mereka beralasan bahwa semua agama
diturunkan dari langit, atau bahwa semuanya mengajak kepada Tuhan yang sama.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, agama selain Islam yang saat ini dianut oleh sebagian orang
adalah bukanlah agama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan melalui
para nabi-Nya. Agama Nasrani yang sekarang dianut oleh sebagian orang,
misalnya, bukanlah agama yang dahulu diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.
Akan tetapi, agama tersebut telah diubah oleh pemeluknya, sehingga tidak lagi
seperti yang dibawa oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Hal ini terbukti dengan
keyakinan mereka yang mengatakan, bahwa Nabi ‘Isa adalah anak Tuhan, bahkan
meyakininya sebagai salah satu Tuhan yang diibadahi. Keyakinan yang salah ini
telah dibantah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya,
وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ
مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ
اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن
كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلآَأَعْلَمُ مَا فِي
نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah mengatakan (di akhirat), “Wahai Isa putra
Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua
orang sesembahan selain Allah?’” (Nabi) Isa menjawab, “Mahasuci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku
pernah mengatakannya, tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib.” (Al-Maidah: 116)
Bila demikian keadaannya, agama Nasrani dan yang selain Islam sudah tidak
lagi sama dengan yang dibawa oleh para nabi, apakah kemudian akan dikatakan
bahwa semua agama itu benar, karena datangnya dari langit dan mengajak kepada
Tuhan yang sama? Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan pernyataan yang
akan merusak akidah kita ini, siapa pun yang mengatakannya.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, sesungguhnya agama seluruh para nabi memiliki tujuan yang sama,
yaitu mengajak manusia untuk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dengan beribadah hanya kepada-Nya dan berlepas diri dari peribadatan kepada
selain-Nya. Oleh karena itu, seluruh agama para nabi—meskipun berbeda
syariatnya—disebut agama Islam, dan para pengikutnya disebut kaum muslimin,
karena memiliki prinsip dan tujuan yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
وَوَصَّى بِهَآإِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ
وَيَعْقُوبَ يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan (Nabi) Ibrahim telah berwasiat dengan wasiat tersebut kepada
anak-anaknya, demikian pula (Nabi) Ya’qub. (Nabi Ibrahim berkata), “Wahai
anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka
janganlah kalian mati, kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.” (Al-Baqarah: 132)
Oleh karena itu, kita membenarkan ajaran seluruh para nabi dan kitab suci
yang diturunkan kepada mereka. Namun demikian, dengan diutusnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, syariat agama yang terdahulu telah dihapus kecuali
prinsip dan tujuannya, yaitu mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Artinya, agama Islam yang dibawa oleh penutup para nabi—Nabi kita Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam— itulah yang harus kita ikuti. Bahkan, dengan diutusnya
beliau, seluruh manusia dan jin yang ada di muka bumi ini tidak memiliki
pilihan lain, kecuali harus mengikuti ajarannya. Barang siapa tidak mau
mengikuti agama yang dibawanya, maka dia adalah orang kafir yang akan menjadi
penghuni neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaba,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ
يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ
يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ
النَّارِ
“Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada seorang pun
dari umat ini yang telah mendengar diutusnya aku, baik dia Yahudi maupun
Nasrani, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman terhadap agama yang aku
diutus dengannya (Islam), melainkan dia termasuk penghuni neraka.” (H.R.
Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa mengaruniakan kepada
kita semua istiqamah di atas satu-satunya agama yang diridhai-Nya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ
وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ
عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ
وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لـَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ
الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِّ مَكانٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْـمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمينَ في كُلِّ مَكانٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ